Jumat, 18 Mei 2012

Bagaimana Memulai Usaha?

Setiap bisnis yang dijalankan (untuk usaha awal atau pengembangan), tidak selalu menghasilkan keuntungan, akan tetapi bertujuan untuk memperoleh keuntungan.
Untuk memulai suatu usaha ada 4 pertanyaan yang harus dijawab :

Produk apa yang akan dijual atau diproduksi , berapa jumlah produk yang akan dijual atau diproduksi, kelompok konsumen mana yang dituju , bagaimana membuat dan memasarkan produk .
Produk apa yang akan dijual atau diproduksi ?
Untuk menjawab pertanyaan produk apa yang akan dijual atau diproduksi ada beberapa alasan memilh jenis produk yang dapat dijadikan pertimbangan : Melihat peluang yang dapat dijadikan usaha, Mempunyai sesuatu hobby yang dapat dijadikan usaha .
Berapa jumlah produk yang akan dijual atau diproduksi ?
Jawaban dari pertanyaan ini akan mempengaruhi tentang proyeksi kebutuhan pembiayaan, karena jumlah dari produk yang diproduksi akan mempengaruhi besar kecilnya dana yang disediakan. Ada 5 cara membuat perkiraan penjualan , yaitu Menggunakan pengalaman, Membandingkan dengan perusahaan sejenis, Melakukan uji lapangan , Melakukan penelitian.
Kelompok konsumen yang bagaimana yang akan membeli produk tersebut ?
Konsumen yang akan dibidik apakah konsumen kalangan atas, menengah atau bawah, karena hal ini juga akan berpengaruh dengan kwalitas bahan baku yang disediakan dan tenaga kerja yang digunakan.
Bagaimana membuat produk dan memasarkan produk tersebut ?
Banyak pengusaha pemula yang tidak berhasil memproyeksikan kebutuhan biayanya. Proyeksi kebutuhan pembiayaan ini memegang peranan yang sangat penting untuk memperkirakan berapa sebenarnya kebutuhan modal yang dibutuhkan dan harus disediakan untuk membuka usaha tersebut.
Untuk menjawab pertanyaan bagaimana membuat produk, hal-hal yang harus diperhatikan adalah : Barang atau bahan baku tersebut dibeli dari mana apakah dapat dipenuhi dari lingkungan daerah sendiri atau dari luar daerah, Berapa jumlah kebutuhan bahan bakunya, bagaimana kwalitas bahan bakunya , Tenaga kerja yang dibutuhkan baik jumlah maupun tingkat pendidikannya . Untuk membuat produk tersebut membutuhkan peralatan atau mesin yang bagaimana, apakah yang canggih ataukah yang sederhana dan berapa kapasitasnya.
Seluruh biaya yang berhubungan dengan usaha (kecil) harus dieksplorasi dan dimatangkan. Termasuk juga pengeluaran jangka panjang yang berhubungan dengan perlengkapan, seperti penyusutan tahunan, sebaiknya dihitung sehingga seluruh biaya dapat diketahui oleh pengusaha sebelum terjun kedalam bisnis.
Perkiraan modal awal yang diperlukan adalah terdiri dari Modal investasi (terdiri dari fasilitas fisik misalnya gedung dan peralatan) dan modal kerja yang digunakan untuk membiayai operasional rutin perusahaan, misal membeli persediaan bahan , biaya promosi, gaji karyawan, sewa, asuransi , dan biaya lainnya .
Bagaimana memasarkan produk ?
Untuk menjawab pertanyaan diatas diperlukan tindakan-tindakan strategi dan taktik untuk mencapai tujuan perusahaan.
Untuk mendapatkan pembeli-pembeli yang memungkinkan (berapa banyak yang mereka inginkan dan berapa harganya), kita harus mencari jawaban untuk beberapa pertanyaan berikut : Dimana produk tersebut akan dijual , Dengan harga berapa produk tersebut akan ditawarkan, siapakah pembelinya dan dimana mereka tinggal, siapa pesaingnya, bagaimana promosi yang dilakukan
Setelah melewati seluruh hal-hal diatas, kemudian saudara dapat memutuskan apakah sebuah usaha berharga untuk dikerjakan.

MEMILIH BENTUK USAHA BERDASARKAN HUKUM
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan bentuk usaha :Biaya memulai dan mendaftarkan usaha, Kemudahan memulai usaha, Resiko keuangan yang ditanggung pemilik usaha, Kemungkinan mendapatkan mitra usaha, Pembuatan keputusan dalam perusahaan, Pajak yang harus ditanggung.
Faktor yang dipertimbangkan adalah :Memulai usaha sebaiknya dengan modal sendiri , jumlahnya tidak terlalu besar / banyak , sederhana , biaya murah, boleh hutang , tetapi dengan tanggung jawab pribadi yang rendah

MENGETAHUI TANGGUNG JAWAB ANDA
Pemilik usaha harus mengetahui tanggung jawab / persyaratan hukum , meliputi PAJAK ( PPh pasal 21 , PPh pasal 22, PPh pasal 23, PPh pasal 26, PPh pasal 4 ayat 2 , PPH pasal 15 , PPN , PPN BM ., PBB ) ;IJIN USAHA DAN SERTIFIKAT ( Ijin usaha : H O – ijin gangguan , IJIN OPERASI , SIUP, TDP , Sertifikat dari Kadin ); KONDISI KERJA ( Kebisingan , Penerangan, Penggunaan dan Penyimpanan barang berbahaya ); ada peraturan Depnaker / Disnaker tentang kondisi kerja dalam perusahaan , PERATURAN DAN PERUDANG-UNDANGAN KETENAGAKERJAAN

Pengembangan Usaha

Setelah suatu usaha sudah berjalan, sering timbul pertanyaan apakah usaha ini perlu dikembangkan ? Kalau memang perlu dikembangkan,  usaha apa lagi yang akan dilakukan ?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui dasar pemikiran untuk melakukan pengembangan usaha.
Dasar pemikiran untuk melakukan pengembangan  usaha adalah :




1.KONDISI INTERNAL PERUSAHAAN (MIKRO)

a.Posisi usaha dan perusahaan
b.Kemampuan usaha/ bisnis dan  perusahaan
c.Kemampuan organisasi dan manajemen
d.Usaha belum optimal
e.Usaha mengalami kejenuhan

2. KONDISI EKSTERNAL PERUSAHAAN (MAKRO)

a.Keadaan pasar, konsumen
b.Keadaan persaingan
c.Kebijakan pemerintah
d.Keadaan perekonomian Nasional, internasional, lokal
e.Keadaan politik dan keamanan
f.Terdapat kemungkinan atau peluang usaha
g.Karena adanya suatu peristiwa tertentu

3.BENTUK DAN JENIS

Bentuk dan jenis pengambangan usaha, meliputi:
a.Pengembangan jumlah atau volume barang/ produk; dalam bentuk dan jenis produk yang sama. Misal: Jumlah penjualan tahun 2010 sebanyak= 1000 unit, untuk tahun 2011 menjadi sebanyak= 1500 unit.
b.Pengembangan  produk lain; dalam satu arah. Misal: Usaha yang lama menjual kain kebaya dan kebaya jadi, sedangkan usaha yang baru menerima jahitan membuat kebaya.
c.Pengembangan  produk yang berbeda dan pada arah yang berbeda. Misal: Usaha yang lama Peracangan, sedangkan usaha yang baru adalah bengkel sepeda motor
d.Pengembangan usaha sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Misal: Ahli dibidang musik, mendirikan usaha menjual Peralatan musik, sedang usaha yang baru adalah mendirikan sekolah  musik.
e.Pengembangan produk dalam satu arah. Misal : Usaha yang lama membuat pakaian (konveksi) untuk orang dewasa, sedangkan usaha yang baru selain membuat produk yang lama ditambah membuat pakaian untuk anak-anak, seprei, mukena

#Semangat TeloPreneur

Kewirausahaan salah satu solusi mengatasi pengangguran di Indonesia

Masalah pengangguran merupakan kasus krusial yang menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penyebab utama tingginya pengangguran di Indonesia antara lain : kurangnya lapangan kerja, rendahnya jenjang pendidikan yang dicapai masyarakat, minimnya ketrampilan yang dikuasai oleh sumber daya manusia.
Jika melihat data dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai Agustus 2010, ternyata paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Hal ini tentu menjadi sangat ironis sekali karena dengan pendidikan yang dimiliki tentunya dapat menjadi modal untuk membangun Negara, bahkan dapat membantu Negara dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi pengangguran bukannya malah ikut serta menambah pengangguran. Oleh sebab itu menanamkan jiwa kewirausahaan kepada masyarakat dapat menjadi solusi untuk mengurangi pengangguran, karena dengan melakukan  kegiatan wirausaha maka dapat menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mengapa kewirausahaan ? Setidaknya terdapat 4 alasan mengapa menciptakan sebanyak mungkin enterpreneur di suatu negara memiliki keterkaitan dengan kesejahteraan negara tersebut, yaitu : (1) Solusi bagi dirinya sendiri, karena mereka tidak perlu menganggur dan mereka adalah pencipta kerja bagi dirinya sendiri; (2) solusi bagi sesamanya, karena dari pekerjaan yang mereka ciptakan akan memberikan pekerjaan bagi yang lain; (3) solusi bagi komunitasnya, karena dari daya inovasi kreatifitasnya akan dapat merubah sumber daya menjadi produk yang dibutuhkan masyarakat luas; (4) solusi bagi negara, karena dari hasil karya para enterpreneur negara memperoleh pendapatan melalui pajak yang dibayarkan, dimana hasil pajak ini berguna untuk membiayai pemerintahan dan kelangsungan pembangunan negara ini.
Banyak upaya yang ditempuh pemerintah dan elemen masyarakat lain untuk mendorong tumbuhnya lebih banyak enterpreneurship di Indonesia. Menurut A.B. Susanto, Managing Partner The Jakarta Consulting Group, seseorang enterpreneurship harus memiliki semangat serta kemampuan teknis yang memadai, selain itu juga memiliki kedisiplinan dan kepemimpinan. Dengan kata lain, disamping memiliki pengetahuan serta ketrampilan enterpreneurship, seorang enterpreneur juga harus memiliki kualitas kepemimpinan (leadership) yang baik. Perpaduan ini dapat disebut sebagai leadpreneurship. Orang-orang yang memiliki kualitas leadpreneurship yang tinggi adalah mereka yang mampu untuk mengubah sumber daya yang bernilai rendah menjadi sumber daya yang bernilai tinggi melalui pengambilan resiko yang terukur dan kepemimpinan yang efektif.
Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah membangun jiwa kewirausahaan dalam diri setiap individu  ?
  • Menyediakan pelatihan tentang kewirausahaan dan pengembangan  manajemen dengan tujuan untuk menyediakan para pengusaha fasilitas sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.
  • Memberi pelayanan dan bimbingan setelah pelatihan selesai dilakukan untuk membantu pengusaha lama dan baru dalam mengelola bisnis mereka dengan efektif.
  • Menyediakan fasilitas mentor bagi para pengusaha muda dan memberi kesempatan pada mereka untuk berkomunikasi dengan para pemilik bisnis sehingga mereka mampu mengembangkan bisnis mereka.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan tidaklah cukup dengan hanya memberi bantuan berupa material, karena hal itu berarti tidak menumbuhkan jiwa kewirausahaan, mereka hanya akan terbantu pada saat itu saja, tidak berusaha untuk memberdayakan kemampuan mereka sendiri. Keterampilan dan kemampuanlah yang mereka butuhkan.

#Semangat TeloPreneur

 
Design by HuseinWijoyo | Bloggerized by Telopreneur | coupon codes